Selasa, 20 November 2012

hobby basket

Basket is My Hobby
Anazel mencoba untuk memanggil Fella. Tetapi, Fella tidak mendengarnya. Anazel kesal dengan tingkah laku Fella. Akhirnya, Anazel mengambil keputusan untuk berteriak kepada Fella.
“FELLA!” teriak Anazel.
“Ada apa? Jangan ganggu aku! Aku lagi sibuk nihh..Ngomongnya nanti saja!” jawab Fella sambil berteriak juga.
 Anazel tidak memanggil-manggil Fella lagi. Anazel merasa tambah kesal karena Fella menjawab panggilannya dengan kasar.
Apa yang menyebabkan Fella tidak menghiraukan panggilan Anazel? Apa yang sedang dilakukan Fella? Begitu, pentingkah sehingga, tidak menjawab panggilan, sahabatnya, Anazel?
Pernahkah kalian memanggil atau dipanggil sahabat kalian, tetapi tidak dijawab? Bagaimana perasaan kalian, kesal bukan? Ya, tentu saja, sangat kesal.
Mau tahu cerita ini lebih lanjut??? Baca deh ceritanyaaa..
“Eh, tunggu, dong!” teriak Anazel sambil berlari-lari kecil.
“Iya, iyaa. Aku tungguin, kok, tenang aja deh,” Jawab Penelope..
“Nah, gitu dong. Oh, iya cepetan, kita pergi ke Lapangan Olahraga. Nanti, kalau telat, dimarahin Pak Collin lhoo..” kata Anazel.
“Sip, Zel!” sahut Penelope atau biasa disebut Penny.
 Mereka pergi ke Lapangan Olahraga dan berbaris sesuai dengan nomor urut absen. Setelah melakukan pemanasan, Pak Collin menyuruh anak-anak bermain basket. Pak Collin membagi anak perempuan dan anak laki-laki masing-masing dua kelompok. Kebetulan, Anazel tidak sekelompok dengan Penny. Anazel menatap Penny dengan pandangan sedih. Ia tidak bisa bermain basket kalau tidak dibantu dengan sahabatnya.
Penny sangat bersemangat ketika, ia tahu bahwa Pelajaran Olahraga kali ini adalah bermain basket. Penny sangat suka bermain basket. Bermain basket adalah hobinya sejak kecil. Ia segera menyusun strategi dengan kelompoknya. Ia berdiskusi dengan wajah serius bersama teman-temannya. Pada saat menyusun strategi, Anazel memanggil Penny. Tetapi, Penny tidak mendengar panggilan Anazel. Ia terlalu sibuk menyusun strategi untuk pertandingan basket.
 Anazel merasa kesal karena panggilannya tidak dijawab oleh Penny.
Ia mencoba berteriak: “PENNY!”
Namun, Penny hanya menjawab: “Ada apa? Jangan ganggu aku! Aku lagi sibuk nihh..Ngomongnya nanti saja!”
Pennny tidak menyadari kalau ia berkata begitu kepada sahabatnya karena ia sedang sibuk sekali. Jawaban Penny membuat hati Anazel tambah kesal. Ia tidak memanggil-manggil Penny lagi.
Beberapa menit kemudian, semua kelompok sudah menyusun strateginya masing-masing. Mereka siap untuk bertanding!
Pak Collin: “Pertandingan basket akan segera dimulai, Kelompok Anazel melawan Kelompok Penny.”
Tepuk tangan riuh dan sorak-sorai bergemuruh di Lapangan Olahraga.
 PRITT!! Bunyi peluit Pak Collin. Pertandingan telah dimulai, Sofia mendapat bola dan mengoper ke Zerelda. Zerelda mencoba meng-shoot dan MASUK!! Kelompok Penny unggul 2 point menjadi 2-0. Tak selang beberapa waktu, Kelompok Anazel mencetak three point. Kedudukan skor berubah menjadi 3-2. Di menit-menit terakhir, Penny berhasil memasukkan bola ke dalam ring basket.
Kelompok Penny keluar sebagai pemenang. Penny tersenyum melihat teman-temannya bertepuk tangan dan bersorak-sorak gembira. Teman-teman Penny memuji strategi yang dipakai kelompoknya waktu bertanding. Kelompok Penny bermain dengan sportif dan tidak curang. Anazel yang melihat Penny, sahabatnya, dipuji oleh teman-temannya merasa iri hati. Ia tidak bisa bermain basket dan tidak pernah sekalipun dipuji oleh teman-temannya.
 Setelah semua kelompok bertanding, anak-anak berganti baju dengan seragam merah putih. Mereka semua beristirahat selama 30 menit. Penny berganti baju di kamar mandi dan pergi ke dalam Kelas. Ia melihat Anazel dan menghampirinya.
“Hey, Anazel, makan di sini yuk!” tanya Penny.
“Engga, ah..Aku mau ke Kantin,” jawab Anazel mengarang alasan.
“Ya, udah. Aku ikut yah.” Kata Penny.
“Ahh, gak usah.. Aku lagi ingin sendiri,” sahut Anazel.
“Ooh, oke. Tapi, kenapa? Kok tumben? Biasanya kamu paling mau kalau aku temenin. Kok sekarang, engga? Kamu marah sama aku yaa?” tanya Penny bertubi-tubi.
“Gak tau deh… pikir aja sendiri… Minggir, aku mau lewat!” jawab Anazel dengan ketus.
 Penny menatapAnazel kebingungan. Penny duduk di kursinya sambil menopang dagu. Ia memikirkan kesalahan apa yang telah dia lakukan sehingga, membuat Anazel marah. Ia mengingat-ingat kejadian tadi pagi. Ia menunggu Anazel yang berlari mengejarnya, kemudian, mereka pergi ke Lapangan Olahraga, melakukan pemanasan, dan Pak Collin memberitahu bahwa kita akan bermain basket, menyusun strategi dan AHA! Itu dia, masalahnya!

Sekarang, Penny sudah tahu apa yang menyebabkan Anazel marah kepadanya. Sewaktu menyusun strategi untuk pertandingan basket, Anazel berteriak memanggil Penny. Tetapi, Penny tidak mengacuhkannya dan hanya menjawab dengan kasar. Penny menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki kesalahannya. Penny bergegas mencari Anazel untuk meminta maaf. Penny mencarinya kemana-mana, tapi tak ditemukan juga.
 Tiba-tiba, Penny mengingat suatu tempat dimana dia dan Anazel pertama kali bertemu, TAMAN!
“Pasti, Anazel ada di sana!” pikir Penny dalam hati.
Ternyata dugaan Penny tepat, Anazel memang ada di Taman. Ia duduk di bangku taman yang biasa, di duduki oleh mereka berdua. Penny duduk di sebelah Anazel dan memulai percakapan.
Penny: “Zel, aku mau ngomong, bentar boleh?”
Anazel: “Mau ngomong apa? Lima menit lagi kita harus masuk ke Kelas…”
Penny: “Aku mau minta maaf, ya, Zel. Aku tahu aku salah, aku terlalu cuek sama kamu. Sorry, tadi aku terlalu sibuk menyusun strategi jadi, aku tidak memperhatikan kamu dehh.. Nobody’s perfect in this world! Semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihan , bukan? And one more thing, Basket is My Hobby. When I played that game, I focused only for it, not others. I conscious I was wrong. Sorry, Anazel…
Anazel: “Akhirnya, kamu sadar jugaa. Ok, ok I’ll forgive you. Aku juga minta maaf, Penny… karena terlalu sensitif. Maafin aku, yah!”
Penny: “All right, Aku maafin kamu jugaa.. Bukankah sebagai sahabat yang baik kita harus saling mengerti satu sama lain? ”
Anazel: “Yep, that’s right, my buddy!”

 Anazel dan Penny bersahabat lagi, walaupun kadang masih bertengkar tetapi, mereka pasti berbaikan kembali. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Semua masalah pasti bisa diselesaikan kalau kita mau berusaha untuk menyelesaikan masalah itu.

sumber: http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Dari-Kamu/Karya-Kita/Tulisanku/Basket-is-My-Hobby